Pengaruh Simulation Based Learning (SBL) Terhadap Kemampuan Pertolongan Pertama Resiko Trauma Tulang Belakang Pada Pemanen Durian Di Rembangaan
Abstrak
Pendahuluan: Risiko jatuh dari ketinggian pada pemanen durian dapat menyebabkan trauma tulang belakang yang berpotensi menimbulkan kecacatan permanen hingga kematian apabila tidak ditangani dengan tepat. Rendahnya kemampuan masyarakat awam dalam melakukan pertolongan pertama menjadi salah satu faktor yang dapat memperburuk kondisi korban. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Simulation-Based Learning (SBL) terhadap kemampuan pertolongan pertama risiko trauma tulang belakang pada pemanen durian di Rembangan. Metode: Metode penelitian menggunakan desain pre-experimen dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pemanen durian aktif di wilayah Rembangan sebanyak 40 orang. Sampel penelitian berjumlah 36 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner pengetahuan dan lembar observasi keterampilan pertolongan pertama risiko trauma tulang belakang). Hasil: Penelitian ini menunjukkan kemampuan responden setelah diberikan pelatihan menggunakan metode Simulation-Based Learning (SBL). Nilai rata-rata kemampuan meningkat dari 18,98 pada pre-test menjadi 96,17 pada post-test, sedangkan nilai median meningkat dari 19,44 menjadi 97,22. Analisis: uji Wilcoxon Signed Rank Test yang menunjukkan nilai p = 0,001 (p < 0,05) dengan effect size sebesar r = 0,87 yang menunjukkan pengaruh besar. Diskusi: Penelitian ini menunjukkan bahwa metode Simulation-Based Learning (SBL) efektif dalam meningkatkan kemampuan pertolongan pertama risiko trauma tulang belakang pada pemanen durian di Rembangan. Metode pembelajaran berbasis simulasi memungkinkan responden memperoleh pengalaman langsung, praktik aktif, dan proses debriefing sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam melakukan pertolongan pertama secara tepat. Temuan ini menunjukkan pentingnya penerapan pelatihan berbasis simulasi sebagai upaya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat pada kelompok pekerj aan berisiko tinggi.
Unduhan
Referensi
[1] T. Y. Wang, “Management of Acute Traumatic Spinal Cord Injury: A Review of the Literature,” Front. Surg., vol. 8, no. December, 2021, doi: 10.3389/fsurg.2021.698736.
[2] L. Widhiyanto, “A demographic profile of cervical injury: an Indonesian single tertiary hospital study with 6 months to 1-year follow-up,” Egypt. J. Neurol. Psychiatry Neurosurg., vol. 57, no. 1, 2021, doi: 10.1186/s41983-021-00433-x.
[3] A. Alharbi, “The effectiveness of simulation-based learning (SBL) on students’ knowledge and skills in nursing programs: a systematic review,” BMC Med. Educ., vol. 24, no. 1, 2024, doi: 10.1186/s12909-024-06080-z.
[4] M. G. Saputro, “The Effectiveness of Role Play on Knowledge and Skills of Spinal Injury Indications Evacuation Improvement,” JKG (Jurnal Keperawatan Glob., vol. 8, no. 2, pp. 130–143, 2024, doi: 10.37341/jkg.v8i2.879.
[5] A. Permatasari, “The effect of leaflet-based education and simulation of first-aid in accidents (P3K) on the knowledge and skills of tourism workers in Indonesia,” Public Heal. Occup. Saf. J., vol. 1, no. 1, pp. 127–138, 2025, doi: 10.56003/phosj.v1i1.596.
[6] Fitria Eka Resti Wijayanti, “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Menggunakan Metode Simulasi Pertolongan Pertama ( Log Roll ) Pada Pekerja The Effect Of Health Education Using Simulation Method First Aid ( Log Roll ) On Building Workers With Risk Of Spine Injury,” J. Kesehat. Tujuh Belas, vol. 2, no. 2, pp. 205–212, 2021.
[7] M. H. K. Amaleh, “Evaluating the effectiveness of the pre ‑ hospital trauma life support ( PHTLS ) program for the management of trauma patients in the pre ‑ hospital emergency based on Kirkpatrick ’ s evaluation model,” Int. J. Emerg. Med., vol. 2, pp. 1–8, 2024, doi: 10.1186/s12245-024-00589-2.
[8] Avau, “Impact of the Use of Simulated Patients in Basic First Aid Training on Laypeople Knowledge, Skills, and Self-efficacy: A Controlled Experimental Study,” Simul. Healthc., vol. 17, no. 4, pp. 213–219, 2022, doi: 10.1097/SIH.0000000000000657.
[9] R. P. Cant and S. J. Cooper, “Simulation-based learning in nurse education : systematic review,” J. Contin. Educ. Nurs., no. Cioffi 2001, 2025, doi: 10.1111/j.1365-2648.2009.05240.x.
[10] Mather, “Edukasi Dan Simulasi Bantuan Kegawatdaruratan Balut Bidai, Evakuasi Dan Transportasi Pada Kasus Cidera Bagi PMR SMAN 1 Sei Ambawang Kubu Raya,” J. Pengabdi. Kesehat. Komunitas, vol. 2, no. 3, pp. 224–229, 2023.
[11] L. Dittrich, T. Aagaard, and H. Hjukse, “The perceived affordances of simulation-based learning : online student teachers ’ perspectives,” Int. J. Educ. Technol. High. Educ., vol. 2, 2022.
[12] K. Nojima, R. Yoshida, S. Sato, T. Fukuda, and K. Kakinuma, “Simulation-Based Education and Nursing Student Learning Motivations : A Scoping Review,” Cureus, vol. 17, no. 5, 2025, doi: 10.7759/cureus.84375.
[13] P. Boedeker, “Active Versus Passive Learning in Large ‑ Group Sessions in Medical School : A Randomized Cross ‑ Over Trial Investigating Effects on Learning and the Feeling of Learning,” Med. Sci. Educ., vol. 35, no. 1, pp. 459–467, 2025, doi: 10.1007/s40670-024-02219-1.
[14] N. A. Chafshah, “Efektivitas Metode Simulasi Dalam Meningkatkan Pemahaman Konsep Dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Pendidikan Dasar Di Era Digital,” Nadhifa Aufah Chafshah, vol. 10, 2025.
[15] Y. Hu, “The effectiveness of emergency knowledge training of pediatric medical workers based on the knowledge , skills , simulation model : a quasi ‑ experimental study,” BMC Med. Educ., pp. 1–12, 2022, doi: 10.1186/s12909-022-03267-0.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
